A. Ilmu
akhlak diluar agama Islam.
1. Akhlak
pada Bangsa Yunani
Pertumbuhan
dan perkembangan Ilmu Akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya
apa yang disebut Sophisticians, yaitu otang-orang yang bijaksana
(500-450 SM). Sedangkan sebelum itu di kalangan bangsa Yunani tidak dijumpai
pembicaraan mengenai akhlak, karena pada masa itu perhatian mereka tercurah pada
penyelidikannya mengenai alam.
Sejarah mencatat, bahwa filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan
pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 M). Socrates
dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak, karena ia yang pertama kali berusaha
sungguh-sungguh membentuk pola hubungan antarmanusia dengan dasar ilmu
pengetahuan. Dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk pola
hubungan itu tidak akan menjadi benar, kecuali bila didasarkan pada ilmu
pengetahuan, sehingga ia berpendapat bahwa keutamaan itu adalah
ilmu.
Selanjutnya,
Golongan terpenting yang lahir setelah Socrates dan mengaku sebagai pengikutnya
ialah Cynics dan Cyrenics. Golongan Cynics
dibangun oleh Antithenes yang hidup pada tahun 444-370
SM. Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari
segala kebutuhan, dan sebaik-baik manusia adalah orang yang berperangai
ketuhanan. Sebagai konsekuensinya,golongan ini banyak mengurangi
kebutuhannya terhadap dunia sedapat mungkin, rela menerima apa adanya, suka
menanggung penderitaan, tidak suka terhadap kemewahan, menjauhi kelezatan,
tidak peduli dengan cercaan orang, yang penting ia dapat memelihara akhlak yang
mulia.
Adapun
golongan Cyrenics dibangun oleh Aristippus yang labu di Cyrena
(kota Barka di utara Afrika). Golongan ini berpendapat bahwa mencari
kelezatan dan menjauhi kepedihan adalah merupakan satu-satunya tujuan hidup
yang benar. Menurutnya perbuatan yang utama adalah perbuatan yang tingkat
kadar kelezatannya lebih besar daripada kepedihan. Dengan demikian menurutnya
kebahagiaan dan keutamaan itu terletak pada tercapainya kelezatan dan
mengutamakannya.
Pada
tahap selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM). Ia seorang ahli filsafat Athena
dan murid dari Socrates. Dalam pandangan terhadap akhlak, Plato
berupaya memadukan antara unsur yang datang dari diri manusia sendiri, dan
unsur yang datang dari luar. Unsur dari diri manusia berupa akal pikiran dan
potensi rohaniah lainnya, sedangkan unsur dari luar berupa pancaran nilai-nilai
luhur dari yang bersifat mutlak. Perpaduan dari kedua unsur inilah yang membawa
manusia menjadi orang yang utama.
Setelah
Plato, datang pula Aristoteles (394-322 SM). Sebagai seorang murid Plato,
Aristoteles berupaya membangun suatu paham yang khas, dan Aristoteles
berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang
dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan
ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.
Atistoteles
juga dikenal sebagai tokoh yang membawa teori pertengahan. Menurutnya bahwa tiap-tiap
keutamaan adalah tengah-tengah di antara kedua keburukan.
Dermawan misalnya adalah tengah-tengah antara boros dan kikir, keberanian
adalah tengah-tengah antara membabi buta dan takut. Demikian dengan keutamaan
lainnya.
Selanjutnya
pemikir akhlak dari kalangan pemikir Yunani ini adalah Stoics dan Epicurus.
Keduanya berbeda pendapat dalam hal mengemukakan pandangannya tentang kebaikan.
Stoics berpendirian sebagaimana paham Cynics yang pandangannya telah
dikemukakan di atas. Sementara Epicurus mendasarkan pemikirannya pada paham
Cyrenics sebagaimana telah dikemukakan juga di atas. Paham mereka banyak
diikuti di zaman baru.
2. Akhlak
pada agama nasrani dan Bangsa Romawi (Abad Pertengahan)
Menurut
agama nasrani ini bahwa Tuhan adalah sumber akhlak. Tuhanlah yang
menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan
dilaksanakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tuhanlah yang menjelaskan
arti baik dan buruk. Menurut agama ini bahwa yang disebut baik ialah perbuatan
yang disukai Tuhan serta berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan
demikian, ajaran akhlak pada agama Nasrani ini tampak bersifat teocentri (memusat
pada Tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Karena itu
tidaklah mengherankan jika ajaran akhlak agama Nasrani yang dibawa oleh para
pendeta berdasarkan ajaran Taurat ini sejalan dengan ajaran ahli-ahli filsafat
Yunani dari aliran Stoics sebagaiama diungkapkan sebelumnya.
Selanjutnya
Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai oleh gereja waktu itu,
gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta menentang penyiaran ilmu dan
kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan "hakikat" telah
diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan oleh wahyu tentu benar adanya. Oleh
karena itu, tidak ada artinya lagi penggunaan akal pikiran untuk kegiatan
penelitian. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak
bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan oleh gereja, atau memiliki
persamaan dan menguatkan pendapat gereja. Di luar ketentuan seperti itu penggunaan
filsafat tidak diperkenankan. Namun demikian, sebagian dari
kalangan gereja ada yang mempergunakan pemikiran Plato, Aristoteles dan Stoics
untuk memperkuat ajaran gereja, dan mencocokkannya dengan akal. Filsafat yang
menentang agama Nasrani dibuang jauh-jauh.
Dengan
demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah
ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran
Nasrani. Di antara mereka yang termasyhur ialah Abelard, seorang ahli
filsafat Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, seorang ahli filsafat Agama
berkebangsaan Itali (1226-1274).
3. Akhlak
pada agama nasrani dan Bangsa Romawi (Abad Pertengahan)
Bangsa
Arab pada zaman Jahiliyah tidak mempunyai ahli-ahli filsafat yang mengajak
kepada aliran paham tertentu, sebagaimana yang dijumpai pada bangsa Yunani dan
Romawi yang telah disebutkan di atas. Hal yang demikian sebagai akibat dari
tidak berkembangnya kegiatan ilmiah di kalangan masyarakat Arab. Pada
masa itu bangsa Arab hanya mempunyai ahli-ahli hikmah dan ahli syair. Di dalam
kata-kata hikmah dan syair tersebut dapat dijumpai ajaran yang memerintahkan
agar berbuat baik dan menjauhi keburukan, mendorong pada perbuatan yang utama
dan menjauhi dari perbuatan yang tercela dan hina. Hal yang demikian
misalnya terlihat pada kata-kata hikmah yang dikemukakan Luqmanul Hakim, Aktsam
bin Shaifi; dan pada syair yang dikarang oleh Zuhair bin Abi Sulma dan Hakim
al-Thai.
B. Akhlak
pada agama Islam
Ajaran
akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada Agama Islam dengan titik
pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak
manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dia-lah Pencipta,
Pemilik, Pemelihara, Pelindung, Pemberi Rahmat, Pengasih dan Penyayang terhadap
segala makhluk-Nya. Segala apa yang ada dunia ini, dari gejala-gejala yang
bermacam-macam dan segala makhluk yang beraneka warna, dari biji dan binatang
melata di bumi sampai kepada langit yang berlapis semua milik Tuhan, dan diatur
oleh-Nya.
Selain
itu, agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling
sempurna dan memuat ajaran yang menuntun kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.
Semua ini terkandung dalam ajaran al-Qur'an yang diturunkan Allah Swt. dan
ajaran yang didatangkan dari Nabi Muhammad SAW yang disebut dengan Sunnah .
Perhatian
Islam terhadap pembinaan akhlak lebih lanjut dapat dijelaskan dengan
menunjukkan universalitas al-Qur'an mengenai jalan yang harus ditempuh manusia.
Hasil penelitian Thabathabi terhadap kandungan al-Qur'an mengenai jalan yang
harus ditempuh manusia itu ada tiga macam, dengan uraiannya secara singkat
sebagai berikut:
Pertama, menurut
petunjuk al-Qur’an, dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada kebahagiaan,
ketenangan dan pencapaian cita-citanya. Kebahagiaan dan ketenangan merupakan
suatu warna khusus di antara warna-warna kehidupan yang diinginkan manusia,
yang di naungannya ia berharap menemukan kemerdekaan, kesejahteraan,
kesentosaan dan lain-lain. Kedua, perbuatan-perbuatan yang
dilakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hukum
tertentu. Hal ini merupakan suatu kebenaran yang tidak dapat diingkari, dalam
segala keadaan, mengingat begitu jelas dan gamblangnya persoalan. Hal itu
disebabkan karena manusia yang mempunyai akal hanya melakukan sesuatu setelah
ia menghendakinya. Perbuatannya itu berdasarkan kehendak jiwa yang diketahuinya
dengan jelas. Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat manusia
adalah jalan yang didasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi dan dorongan hawa
nafsu.
Selanjutnya perhatian
Islam terhadap pembinaan akhlak dapat pula dijumpai dari perhatian Nabi
Muhammad SAW. sebagaimana terlihat dalam ucapan dan perbuatannya yang
mengandung akhlak. Di dalam hadisnya kita misalnya menemukan
pernyataan bahwa beliau diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia. Orang yang paling berat timbangan amal baiknya di akhirat adalah
orang yang paling mulia akhlaknya. Orang yang paling sempurna imannya adalah
orang yang paling baik akhlaknya, dan lain sebagainya.
C. Akhlak
Pada Zaman Baru
Pada
akhir abad kelimabelas Masehi, Eropa mulai mengalami kebangkitan dalam bidang
filsafat, ilmu pengetahuan dan teknolog. Para ahli bangsa Eropa termasuk
Itali mulai meningkatkan kegiatan dalam bidang filsafat Yunani, ilmu pengetahuan
dan teknologi tersebut. Kehidupan mereka yang semula terikat pada dogma
kristiani, khayal dan mitos mulai digeser dengan memberikan peran yang lebih
besar kepada kemampuan akal pikiran. Segala sesuatu yang
selama ini dianggap mapan mulai diteliti, dikritik dan diperbaharui, hingga
akhirnya mereka menerapkan pola bertindak dan berpikir secara liberal.
Diantara masalah yang mereka kritik dan dilakukan pembaharuan adalah masalah
akhlak. Penentuan patokan baik buruk yang semula didasarkan pada dogma gereja
diganti dengan penentuan baik buruk berdasarkan pandangan ilmu pengetahuan yang
didasarkan pada pengalaman empirik. Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada
penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti gambaran-gambaran
khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama. Sumber akhlak yang
semula ajaran al-kitab dan dogma kristiani dan khayalan mereka ganti dengan
ajaran akhlak yang bersumber pada logika dan pengalaman empirik. Hal yang
demikian pada gilirannya melahirkan apa yang disebut dengan etika dan moral
yang berbasis pada pemikiran akal pikiran.

0 Komentar