الحَثُّ عَلَى التَّعَلُّمِ
Motivasi untuk Menuntut Ilmu
العَالِمُ كَبِيرٌ وَإِنْ كَانَ حَدَثًا # وَالْجَاهِلُ صَغِيرٌ وَإِنْ كَانَ شَيْخًا
Al-'ālimu kabīrun wa in kāna ḥadathan, wal-jāhilu ṣaghīrun wa in kāna syaikhan
Orang yang berilmu adalah orang besar (mulia), meskipun usianya masih muda. Sedangkan orang yang bodoh tetaplah kecil (rendah kedudukannya), meskipun telah berusia tua.
تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُولَدُ عَالِمًا # وَلَيْسَ أَخُو عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلٌ
Ta'allam fa laisa al-mar'u yūladu 'āliman, wa laisa akhū 'ilmin kaman huwa jāhilun.
Belajarlah, karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Dan orang yang berilmu tidaklah sama dengan orang yang bodoh.
وَإِنَّ كَبِيرَ الْقَوْمِ لَا عِلْمَ عِنْدَهُ # صَغِيرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ
Wa inna kabīra al-qaumi lā 'ilma 'indahu, ṣaghīrun idzā iltaffat 'alaihi al-jaḥāfilu.
Sesungguhnya pemimpin atau orang yang terpandang dalam suatu kaum, apabila tidak memiliki ilmu, maka ia menjadi kecil (tidak dihormati) ketika berada di tengah kerumunan atau dalam pertemuan besar.
Makna Keseluruhan:
Syair ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh usia, jabatan, atau kedudukan, melainkan oleh ilmu yang dimilikinya. Karena itu, setiap orang diperintahkan untuk terus belajar, sebab tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan berilmu. Orang yang berilmu akan dihormati, sedangkan orang yang tidak memiliki ilmu akan kehilangan wibawa, meskipun memiliki usia atau kedudukan yang tinggi.

0 Komentar