Ramadhan
adalah bulan yang mulia dan utama. Keutamaan bulan Ramadhan disampaikan oleh Rasulullah
SAW kepada kaum muslimin dalam banyak sekali hadits-hadits beliau. Di antaranya
adalah bahwa pada bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup,
sementara pintu surga dibuka lebar.
Sabda Rasulullah SAW:
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ صُفَّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ ،
وَفُتِحَتْ أَبُوَابُ الجَّنَةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ
“Ketika masuk bulan Ramadlan maka syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Hasan Ali bin Khalaf bin
Abdul Malik bin Baththal Al-Bakri Al-Qurthubi atau yang lebih dikenal dengan
nama Ibnu Baththal, menjelaskan bahwa terdapat dua makna yang diajukan
para ulama tentang makna hadis tersebut. Yaitu makna haqiqi dan makna majazi.
Menurut makna haqiqi, ulama memahami hadis tersebut secara literalis (sesuai
bunyi teks haditsnya). Pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu, dipahami dengan makna yang sebenarnya, sehingga
intensitas setan dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadhan dibanding
dengan bulan-bulan lainnya.
Sedangkan menurut makna majazi, dibukanya
pintu-pintu surga, dipahami bahwa Allah SWT membuka pintu-Nya dengan amal
perbuatan yang dapat mengantarkan hamba-Nya ke surga, seperti puasa, shalat
tarawih, tadarus Al-Qur`an, i’tikaf, dzikir dan lain sebagainya. Sehingga jalan
menuju surga di bulan Ramadhan menjadi lebih mudah dan amal perbuatan lebih
cepat diterima. Begitu juga maksud ditutupnya pintu neraka, yakni dibulan Ramadhan
dapat lebih mudah menghindarkan diri dari kemaksiatan dan menjauhi perbuatan-perbuatan
yang dapat mengantarkan kepada neraka.
Al-Qadhi Iyadh
menjelaskan bahwa makna dibelenggunya setan
dalam hadis tersebut, dapat dipahami sebagai ungkapan tentang upaya orang yang
berpuasa dalam menahan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama.
Selain itu, juga merupakan simbol banyaknya pengampunan dan pahala yang
dijanjikan di bulan Ramadhan.
Dalam kitab Majmu Al-Fatawa menyebutkan, bahwa yang dimaksud dibelenggu adalah dibelenggunya
setan dari upaya menyesatkan manusia, dengan banyaknya kebaikan dan orang yang
bertaubat kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadhan. Al-Hafidz Ibnu Hajar juga berpendapat, bahwa
makna setan dibelenggu dalam hadis tersebut adalah setan tidak dapat menggoda
kaum muslimin seperti yang mereka lakukan di bulan-bulan lainnya, karena
manusia disibukkan dengan beribadah. Setan
dibelenggu dengan puasa, yang berfungsi menekan dorongan nafsu syahwat,
sehingga manusia lebih banyak berbuat kebaikan.
Pertanyaannya, kenapa dibulan Ramadhan masih ada maksiat?
Imam As-Sindi berkata “dibelenggunya setan tidak serta merta dapat
menghilangkan maksiat, karena maksiat juga bisa datang dari hawa nafsu, bukan
hanya dari setan, sebagaimana maksiatnya Iblis yang bukan disebabkan godaan
setan”.
Kemaksiatan yang ada di bulan Ramadhan disebabkan karena
nafsu pada manusia itu sendiri. Karena kemaksiatan itu dapat datang dari dua
jalan, pertama kemaksiatan yang berasal dari diri sendiri yaitu hawa nafsu, dan
yang kedua kemaksiatan yang berasal dari luar, yaitu setan.
Jadi, apabila setan memang benar-benar dibelenggu di
bulan Ramadhan, maka masih harus menghadapi satu tantangan lagi, yaitu hawa nafsu. Yaitu musuh yang harus dihadapi dan dikalahkan di
bulan Ramadhan ini. Wallahu ‘alam Bishawab.

0 Komentar